
Joko Susilo lahir di semarang ,28 juli 1975 ,lulusan Arsitektur Universitas Diponegoro Semarang tahun 1999.Di awali dengan minat besar terhadap dunia Internet ,tanpa memiliki latar belakang teknologi informasi sedikitpun,hanya bisa mengetik dan mengakses Internet bahkan belum bisa membuat email ,berani memulai bisnis intenet marketing .
Pada awal memulai bisnis di Internet, Joko Susilo hanya menggunakan warnet
dan pada bulan awal bisnis Joko Susilo hanya menghasilkan 50 rupiah/hari,walaupun begitu dia berani bercerita kepada teman-teman dan orang tuanya bahwa akan mengahilskan uang berlimpah dari internet,reaksi teman-temannya menertawakan,orang tuanya malah sedih mendengar ceritanya ,kebanyakan dari mereka mencoba melemahkan semangatnya. Banyak yang kaget,ada yang tertawa malah ada yang mengelus dada.
Di tengah lingkungan yang tidak mendukung,Joko Susilo tetap menjalankan bisnisnya.Selama 10 bulan menekuni internet,akhirnya menemukan satu metode sederhana yang mengubah kehidupan bisnis Internet miliiknya yang di beri nama metode Sistem Mesin Uang Otomatis atau SMUO .
Setelah menerapkan metode SMUO, pada tahun pertama Joko Susilo memiliki penghasilan rata-rata 10 juta per bulan, tahun kedua 20 juta, tahun ke empat 25 juta, dan tahun-tahun sekarang memiliki penghasilan paling tidak Rp 75 juta per
bulan,baik kerja ataupun tidak.
Sistem Mesin Uang Otomatis (SMUO) di jual melaui website FormulaBisnis.com Website ini sudah di bangunnya sejak tahun 2001 dan menghasilkan profit tanpa henti, terus menerus,ramainya bisnis online di Indonesia saat ini merupakan sumbangan besar dari FormulaBisnis.com. Sudah ribuan orang yang dibimbing selangkah demi selangkah
bagaimana mereka bisa membangun bisnis di Internet dengan menjual
informasi. Sudah ratusan website baru muncul, dengan topik informasi mereka
masing-masing, mengikuti panduan Joko Suslio.
Menurut Joko Susilo bisnis di internet memiliki keunggulan tersendiri, seperti:
• Modal yang anda perlukan sangat kecil. Relatif kecil dibandingkan bisnis
konvensional apapun.
• Anda tidak membutuhkan inventaris mahal, cukup dengan satu
komputer yang terkoneksi Internet, meja, kursi, dan sebuah buku tulis.
Dengan komputer yang anda miliki sekarang, dengan beberapa aplikasi
dasar, anda sudah bisa menjalankan bisnis ini.
• Produk informasi mudah diproduksi dan diperbanyak. Sebanyak apapun
anda ingin menggandakan produk ini, bisa dilakukan dalam hitungan
detik.
• Profit bersih mencapai 100%. Anda tidak membutuhkan biaya untuk
produksi, pengiriman produk ataupun membayar pegawai. Semua nilai
pemasukan adalah keuntungan anda.
• Pengiriman produk ke konsumen secepat kilat. Tidak membutuhkan
waktu berhari-hari untuk menunggu pengiriman.
• Waktu operasional jauh lebih sedikit. Anda tidak perlu menggunakan 8
jam dalam sehari jika anda tidak suka. Cukup gunakan 1-2 jam per hari
untuk mengurusi bisnis ini.
• Bisnis anda bisa berjalan dengan otomatis. Dari melakukan pemasaran,
sampai anda harus mengirim pemesanan, hampir seluruhnya bisa
dilakukan secara otomatis.
• Bisa anda operasikan sendiri. Karena seluruh sistem telah dipersiapkan
untuk berjalan secara otomatis, tugas kerja anda menjadi semakin
sedikit. Artinya, anda bisa lakukan bisnis ini tanpa perlu merekrut
pegawai.
• Anda memegang kontrol sepenuhnya. Anda bisa mengendalikan bisnis
ini tanpa campur tangan birokrasi dan gangguan dari orang lain.
• Bisa dioperasikan dari mana saja. Di manapun anda berada, yang
dibutuhkan hanyalah akses Internet untuk menjalankan bisnis anda.
• Bisa anda jalankan kapan saja.
Sekarang Jokon Susilo memiliki sebuah kantor eksklusif 2 lantai di Ruko Villa Durian no 7, kawasan Banyumanik Semarang. Sebuah kantor full AC bernilai 1 milyar .Anda bisa mengunjunginya webnya di www.JokoSusilo.com atau www.formulabisnis.com
Wirausaha Menyangkut Soal Karakter
Kewirausahaan tidaklah melulu menyangkut bisnis dan keuntungan. Secara lebih luas, kewirausahaan itu juga mencakup karakter dan pola berpikir. Karakter unggul ini idealnya ada di setiap diri manusia.
Demikian salah satu pokok pikiran yang muncul di dalam pelaksanaan hari kedua Indonesian Conference on Innovation, Entrepreneurship, and Small Business (ICIES) ke-I di Hotel Grand Preanger, Kamis (23/7). Dalam acara ini, pada sesi di siang hari, Wakil Pr esiden Jusuf Kalla turut hadir.
Dalam pidatonya, Jusuf Kalla mengatakan, kewirausahaan adalah sesuatu untuk dilakukan dan diterapkan. Bukan untuk dipelajari semata. "Hendaknya itu dimulai dengan cara yang sederhana. Jangan terlalu berat-berat, kebanyakan teorinya. Nanti malah mahasiswa yang mau mempraktikkannya bingung," ujarnya.
"Makanya, tidak usah terlalu banyak seminar," ujarnya sambil disambut tawa spontan dari para peserta konferensi yang hadir di ruangan. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Wali Kota Bandung Dada Rosada, serta Rektor Institut Teknologi Bandung Djoko Santoso yang hadir dalam acara ini juga ikut tertawa.
Menurut Kala, salah satu karakter terpenting yang bisa diadopsi masyarakat dari wirausahawan adalah keberanian di dalam mengambil keputusan dan resiko. "Seperti belajar renang. Kalau kita takut-takut, mesti tidak akan bisa. Tetapi, kalau sudah nyemplung langsung, dengan sendirinya bisa," ujarnya memberi analogi.
Ia berharap, mental wirausaha yang diadopsi warga ini pada akhirnya dapat membentuk kemandirian bangsa. "Mudah-mudahan, ini bisa menjadi spirit (semangat) pendorong kita dari dalam," ucap calon presiden ini.
Di dalam acara sama namun jam berbeda, Chief Executive Officer (CEO) Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo mengatakan, kewirausahaan menyangkut kultur. Ia menyebutkan sepuluh hal yang menjadi kebiasaan atau kultur khas dari wirausaha yang maju.
"Salah satu yang terpenting, yaitu berani melawan arus. Waktu dulu mendirikan TV7 (sekarang Trans7), kami sempat kebingungan apakah akan mengambil (relai) berita CNN atau tidak. Sebab, CNN jelas punya nama dan ratingnya tinggi. Namun, di akhir keputusan, kami memilih pakai Al-Jazeera. Malahan, oleh mereka dibilang gratis dan rating TV7 sempat naik di urutan ke-3," ucapnya memberi contoh.
Kebiasaan dan karakter penting lainnya adalah kemauan mengambil langkah-bukan sekadar berbicara, kemampuan untuk memperluas perkawanan dan jejaring sosial, tidak lekas puas dan pekerja keras. "Pada umumnya, mereka bekerja hingga 18 jam sehari. Ketika orang tidur terlelap, mereka masih tetap bekerja," ucap Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas ini.
Gerald Lidstone, Director Institute for Creative Cultural Entreprenuership (ICCE) Inggris membenarkan, yang namanya wirausaha itu tidak melulu menyangkut soal bisnis. Melainkan, juga pola pikir kreatif, inovatif, dan kemampuan memecahkan masalah. Paham ini jika dimiliki setiap profesi akan menghasilkan output yang baik.
Wirausaha wan merusak bumi
Amat bahaya apabila kewirausahaan hanya diarahkan pada kepentingan bisnis dan keuntungan. Pengusaha bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi selama ini. "Selama ratusan tahun mereka bebas mengeksploitasi alam tanpa berpikir menyisakannya untuk anak cucu," ujar Howard Frederick, pakar inovasi dan kewirausahaan dari Unitec Institute of Technology, Selandia Baru.
Inilah yang kemudian melatarbelakangi lahirnya paham socialpreneur dan ecopreneur . Dalam sepuluh tahun ke depan, ia percaya ecopreneur akan menjadi tren baru di dunia. "Di Inggris, jumlah sosial-entrepreneur, termasuk di dalamnya ecopreneur mencapai 12 persen, melampaui wirausaha bisnis yang 9 persen," tuturnya.
SPONSORED BY
![]() |
|
Pada tahun 2000, tiga pemain besar industri otomotif di Amerika, General Motors (GM), Chrysler, dan Ford melakukan eksperimen besar. Apa itu? Meluncurkan platform supply chain berbasis internet untuk para partisipan di industri. Platform tersebut dinamakan Covisint yang artinya Collaboration, Vision , dan Integration . Dari namanya memang sangat terlihat bahwa secara filosofis memang ia didesain sebagai platform untuk berkolaborasi, yang visioner, dan saling terintegrasi.
Visi awal dari platform ini adalah untuk membuat sebuah pasar online terbesar di dunia, dimana OEM (original equipment manufacturers ), basis supply mereka (supplier dan sub-supplier ) dan penyedia jasa logistik dapat melakukan segala proses mereka lewat online. Jadi dengan adanya platform ini, perusahaan otomotif terlayani lewat berbagai aplikasi yang akan memudahkan proses sourcing, lelang, logistik, dan hal lainnya terkait dengan pengelolaan supply chain. Di sana adalah gudangnya katalog untuk supplier, acara lelang yang terkait dengan industri, quote management untuk para partisipan di industri yang ingin menjual mesin lama, dan lain sebagainya.
Di rencana awalnya, platform ini diharapkan pula dapat menghemat biaya supply chain sebesar 1.064 dollar AS per kendaraan untuk industri otomotif. Maka tak heran kalau ketiga raksasa dunia otomotif ini kemudian diikuti oleh beberapa pemain lain dari luar Amerika seperti Renault dan Nissan yang masuk ke dalam Covisint. Selain penekanan biaya, jalur komunikasi antar partisipan di supply chain juga tentunya berpotensi untuk menurun dari segi keruwetannya.
Setelah sempat tertunda karena harus berurusan dengan Federal Trade Commission, Covisint akhirnya diluncurkan pada akhir Desember 2000 sebagai entitas komersial. Di tahun 2001, ia mencatat rekor sebagai tempat lelang terbesar di dunia online ketika sempat membukukan transaksi 4 miliar dollar AS dalam waktu kurang dari empat hari. Di tahun 2002, dibuat pula portal untuk sub-supplier , yang pada akhirnya diharapkan untuk dapat menarik 5000 sub-supplier yang akan mendapatkan lebih dari 80 aplikasi terkait dengan aktivitas supply chain .
Langkah kolaboratif yang berbasis konsorsium industri ini kemudian diikuti pula dengan industri lain. Contohnya di industri kesehatan, para pemain seperti Johnson & Johnson, General Electric (GE) Medical Systems, Baxter Healthcare, Abbott Laboratories, dan Medtronic juga melakukan hal yang sama dengan membuat GHX, sebuah platform online yang terbuka, netral untuk digunakan sebagai electronic trading exchange , guna memfasilitasi terwujudnya transfer informasi, uang, barang dan jasa secara real time di industri kesehatan. Dalam dua minggu setelah diluncurkan, pemain lain berbondong-bondong ikut masuk ke platform ini.
Seperti yang dikatakan oleh seorang petinggi di J&J, motivasi dari para pemain untuk berkolaborasi di dalam platform ini adalah karena mereka semua sedang menghadapi tekanan untuk memecahkan solusi terkait masalah efisiensi dan penekanan biaya. Karena dengan adanya platform seperti ini, proses supply chain dapat terkelola dengan baik dan secara dramatis dapat menurunkan biaya bisnis. Dan bukan itu saja, mereka pada akhirnya sadar bahwa platform untuk information sharing seperti ini dapat membuat para pemain di industri berkolaborasi untuk mendefiniskan standar baru terkait dunia kesehatan yang mana dapat menekan biaya dan meningkatkan kualitas pelayanan bagi pasien, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan.
Di hotel industri, pemain seperti Marriott, Hyatt, dan beberapa lainnya juga membuat konsorsium serupa untuk membuat platform yang dinamakan Avendra. Boeing juga melakukan platform e-marketplace serupa yang dinamakan Exostar. Di dunia FMCG, Procter & Gamble, dengan Sara Lee, Coca Cola dan beberapa yang lain juga membuat platform bernama 1SYNC Transora, yang diposisikan sebagai komunitas kolaboratif antar pemain dengan para basis supply di dunia online.
Lantas bagaimana ceritanya dengan platform-platform ini sekarang? Satu yang menarik untuk kita lihat adalah perbandingan antara Covisint dan GHX. Pada tahun 2004, investasi sebesar 500 juta dollar AS yang dilakukan oleh ketiga pemain industri otomotif ini belum juga menghasilkan uang. Ketika itu juga dikabarkan bahwa ketiga perusahaan yang mendirikannya telah mengabaikan langkahnya untuk melakukan e-supply chain lewat kolaborasi terbuka seperti ini. Hanya tiga sampai lima persen dari semua transaksi yang terkait dengan supply chain dilakukan lewat platform ini, sedangkan selebihnya dilakukan secara tradisional. Covisint lantas dijual ke Compuware dengan nilai jauh lebih murah dibanding yang diharapkan oleh ketiga perusahaan yang mendirikannya.
Beda halnya dengan GHX. Tidak perlu menunggu lama, platform ini berhasil untuk memberikan jalan bagi para pemain di industri untuk mengakses basis supply yang kalau ditotal lebih dari 90 persen dari volume transaksi di dalam industri kesehatan. GHX hanya perlu dua tahun untuk menjadi pasar industri kesehatan berbasis internet yang sangat dominan, bahkan satu-satunya konsorsium industri yang dimiliki langsung oleh partisipan yang merepresentasikan semua pemain besar, mulai dari rumah sakit, supplier, distributor, broker, sampai perusahaan logistik.
Pelajaran Berharga Bagi New Wave Marketer
Di era New Wave, process adalah kolaborasi. Proses yang terkait dengan penciptaan nilai dilakukan bukan lagi sekedar mengkoordinir segala sesuatu yang berhubungan dengan quality, cost, and delivery. Lebih dari itu, era New Wave adalah era yang horizontal di mana segala proses yang ada di internal (antar departemen) dan melibatkan pihak eksternal, harus dilakukan secara kolaborasi.
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, teknologi memang memungkinkan bahwa kolaborasi yang sifatnya horizontal itu terjadi. Contohnya seperti lewat pembuatan platform-platform yang diceritakan di atas yang mengintegrasikan, mengkonek, dan mensinkronkan perusahaan-perusahaan yang berbeda, supplier, manufacturer, distributor, dan end-customer. Dengan masuknya perusahaan tersebut ke dalam platform seperti ini, pada akhirnya mereka dituntut untuk terbuka, saling berbagi informasi, dan menjalankan prinsip kemitraan.
Seperti yang dikatakan oleh Tom Stallkamp, bekas Purchasing Chief di Chrysler , di dalam bukunya “A Better Way To Do Business: Moving From Conflict To Collaboration ,” kasus Covisint bisa dibilang gagal karena pada dasarnya tidak ada komitmen yang dalam dari para OEM untuk melakukan proses secara kolaboratif. Bagi para supplier dan sub-supplier yang tergabung, langkah dari para OEM dalam membuat platform seperti ini pada akhirnya hanyalah sesuatu yang semata bersifat adversarial commerce. Atmosfer yang diciptakan adalah bersifat sangat vertikal karena pada akhirnya yang memegang kendali tetap OEM.
Melakukan kolaborasi memang tidak mudah. Jangankan kolaborasi dengan perusahaan lain, membudayakan kolaborasi antar departemen di dalam internal perusahaan pun sering menjadi kendala yang memusingkan bagi para atasan di perusahaan. Patut sekali disayangkan padahal ketika praktek proses yang kolaboratif dapat terkelola secara baik, pastinya berbagai keuntungan akan didapati. Dan tentunya ini bukan saja konsep yang bagus secara teori, namun buktinya dipraktekkan oleh segenap perusahaan, bahkan di beberapa konsorsium industri seperti di dunia kesehatan lewat portal GHX di atas.
Apa yang dilakukan oleh pemain industri otomotif Amerika lewat Covisint memang sangat visioner, hanya saja praktek dan implementasi masih sangat vertikal, di mana mereka pula tidak ingin untuk melepaskan mental berkuasa sebagai raksasa industri. Mungkin itu pulalah salah satu alasan kenapa industri otomotif di sana barusan ini hancur
Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin
081320409989 ; 022 76069558